imammoeharno

Just another WordPress.com site

PPT Ekonomi SMA Kelas XI Semester II

Mau…??? Silahkan Download…

Tinggalkan komentar »

Ekonomi Kelas XI Semester II

PPT Ekonomi Kelas XI Semester II

 

silahkan download disini

Tinggalkan komentar »

PENGERTIAN VARIABEL METODOLOGI PENELITIAN

Ada beberapa definisi tentang variabel, diantaranya sebagai berikut:

Variabel (imam)

 

Tinggalkan komentar »

Tahum 2020, orang Indonesia kantong Rp 7,5 juta per bulan

Masyarakat Indonesia pada tahun 2020 diprediksi memperoleh pendapatan sebesar Rp 7,5 juta/bulan. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, menyatakan berdasarkan analisis Jepang, pada tahun 2015 lebih dari 100 juta penduduk Indonesia akan berpendapatan 3.000 dolar AS per tahun.
“ADA analisis dari Jepang yang menyebutkan penduduk Indonesia pada 2015 ke atas nanti itu lebih dari 100 juta berpendapatan di atas 3.000 dolar AS,” ujar Hatta Rajasa saat ditemui di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (22/9/2011).

Selain itu, lembaga riset asal Inggris, Euromonitor, menyebutkan pada 2020 nanti, pendapatan sekitar 60 persen penduduk Indonesia mencapai Rp7,5 juta per bulan atau 10 ribu dolar AS per tahun.

“Pada 2020 diperkirakan Euromonitor, penduduk yang berpendapatan 6.000 dolar AS sampai 10.000 dolar AS itu 60-an persen atau ada sekitar 8-9 juta rakyat Indonesia yang naik kelas menengah,” jelasnya.

Melihat perkiraan tersebut, Hatta mengatakan, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia akan sangat cepat. Hal ini akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

“Artinya Indoneisa harus memanfaatkan dan mengefisiensikan tata perdangangan dalam negeri. Kalau terjadi perlambatan pada pertumbuhan AS dan Eropa, yang kena duluan China dan India, lalu ekspor kita terganggu, maka Indonesia harus memanfaat kan pasar domestiknya,” jelasnya.
Pemerintah dalam upayanya menyokong hal tersebut, papar Hatta, akan terus berupaya untuk meningkatkan investasi di dalam negeri sehingga industri manufaktur dalam negeri terus bergerak untuk memenuhi kebutuhan domestik dan luar negeri.

Tinggalkan komentar »

Dikpora KSB dan PTNNT Bahas Persiapan Program Sukses UN 2012

Dinas Pendidikan dan Olahraga (DIKPORA) Kabupaten Sumbawa Barat dan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT)  bekerja sama dengan  Lembaga Pendidikan Progressio Surabaya membahas Persiapan Program Sukses Ujian Nasional (UN 2012) SMP/SMA Sederajat Se-Kabupaten Sumbawa Barat Tahun Pelajaran 2011/2012 di Benete, (3/10).  Ini merupakan salah satu Program Pengembangan Masyarakat PTNNT bidang pendidikan untuk membantu meningkatkan kelulusan Ujian Nasional pada tahun 2012 mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sumbawa Barat, Drs Nurdin, dalam sambutannya mengharapkan program ini bisa meningkatkan mutu pendidikan di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat.

”Atas nama pemerintah kami mengucapkan terima kasih kepada PTNNT karena  program serupa yang kita lakukan tahun lalu betul-betul tampak hasilnya. Tahun lalu kami hanya mendapatkan predikat lulus terbanyak tapi memiliki daya serap yang rendah di perguruan tinggi negeri.  Karena itu tahun ini kami tetap mengharapkan predikat kelulusan tertinggi dengan daya serap tinggi di perguruan tinggi negeri,” kata Drs. Nurdin.

Sementara itu Arif Perdanakusumah, Manajer Senior Hubungan Eksternal PTNNT, menyebutkan pendidikan merupakan ujung tombak dalam melakukan perubahan. ”Untuk itu PTNNT dan Dinas Pendidikan dan Olahraga terus bergandengan tangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di KSB. Kami ingin kualitas pendidikan di KSB tidak hanya mampu bersaing di tingkat propinsi, tapi lebih jauh lagi mampu bersaing di tingkat nasional,“ katanya.

Ia menambahkan,  predikat lulus terbanyak yang diraih tahun 2011 menjadi motivasi untuk terus melakukan evaluasi demi perbaikan ke depan, baik dari sisi tenaga pengajar maupun kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang perbaikan mutu pendidikan. Tahun 2011 tingkat kelulusan bergantung pada hasil try out yang digelar secara terpisah. Sedangkan pada program sukses UN 2012 ini akan dilakukan melalui Musyawarah Guru Mutu Pelajaran (MGMP) dan KS3 (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) untuk menghindari try out yang terpisah agar tidak tumpang tindih.

”Kami berharap program tahun ini dapat menghasilkan mentor-mentor atau fasilitator bimbingan belajar dari guru-guru setempat yang berprestasi, sehingga nantinya mereka bisa memberikan bimbingan belajar kepada guru-guru lain melalui wadah MGMP,” harap Arif Perdanakusumah.

Tinggalkan komentar »

PENGGUNAAN MEDIA BELAJAR DAN BEBERAPA TEHNIK MENDAPATKAN UMPAN BALIK

  1. Pengertian Media, Media Sebagai Alat Bantu, dan Sebagai Sumber Belajar
    1. Pengertian Media

Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.

Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan sebagai manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan.

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak ddidik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.

Namun perlu diingat bahwa peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu mengajar, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

Akhirnya dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.

  1. Media Sebagai Alat Bantu

Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Karena memang gurulah yang menghendakinya untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Guru sadar bahwa tanpa tujuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks.

Setiap mata pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi dilai pihak, ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pengajaran seperti ; globe, grafik, ambar, dan sebagainya. Bahan pelajaran dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar diproses oleh anak didik, apalagi bagi anak didik yang kurang menyukai bahan pelajaran yang disampaikan itu.

Anak didik cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari, disebabkan karena penjelasan guru yang sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari penjelasan yang diberikan guru bersimpang siur, tidak ada fokus masalahnya. Hal ini tentu saja harus dicarikan jalan keluarnya. Jika guru tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, apa salahnya jika menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran.

Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar anak didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar lebih baik daripada tanpa bantuan media.

Walaupun begitu, penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut sekehendak hati guru. Tetapi harus memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan. Media yang dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran tentu lebih diperhatikan. Sedangkan media yang tidak menunjang tentu saja harus disingkirkan auh-jauh untuk sementara. Kompetensi guru sendiri patut dijadikan perhitungan. Apakah mampu atau tidak untuk mempergunakan media tersebut. Jika tidak, maka jangan mempergunakannya, sebab hal itu akan sia-sia. Malah bisa mengacaukan jalannya proses belajar mengajar.

Akhirnya dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu dalam proses belajar mengajar dan gurulah yang mempergunakannya untuk membelajarkan anak didik demi tercapainya tujuan pengajaran.

  1. Media Sebagai Sumber Belajar

Belajar mengajar adalah proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari berbagai sumber. Sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana; di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dsb. Udin Saripuddin dan Winataputra (1999:65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu : manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Karena itu sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.

Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Aneka macam bentuk dan jenis media pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik.

Media sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, audiovisual. Penggunaan ketiga jenis sumber belajar ini tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional, dan tentu saja dengan kompetensi guru itu sendiri, dsb.

Anjuran agar menggunakan media dalam pengajaran terkadang sukar dilaksanakan, disebabkan dana yang terbatas untuk membelinya. Menyadari akan hal itu, disarankan kembali agar tidak memaksakan diri untuk membelinya, tetapi cukup membuat media pendidikan  yang sederhana selama menunjang tercapainya tujuan pengajaran.

  1. Macam-macam Media, Prisnsip, dan Dasar Pertimbangan Pemilihan dan Penggunaan Media
  2. Macam-macam Media

Media yang telah dikenal dewasa ini tidak hanya terdiri dari dua jenis, tetapi sudah lebih dari itu. Klasifikasinya bisa dilihat dari jenisnya, daya liputnya, dan dari bahan serta cara pembuatannya.

  1. Dilihat dari Jenisnya, Media Dibagi ke Dalam :

1)      Media Auditif

Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, casette recorder, piringan hitam. Media ini tidak cocok untuk orang tuli atau mempunyai masalah dalam pendengaran.

2)      Media Visual

Adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip, slides foto, gambar / lukisan dan cetakan. Adapula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu dan film kartun.

3)      Media Audiovisual

Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media pertama dan kedua. Media ini dibagi kedalam:

a)      Audiovisula Diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, dan cetak suara.

b)      Audiovisual Gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video casette.

Pembagian lain dari media ini adalah :

a)      Audiovisual Murni, yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasaldari satu sumber seperti film video casette.

b)      Audiovisual Tidak Murni, yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder.

  1. Dilihat dari Daya Liputnya, Media Dibagi Dalam :

1)      Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak

Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama. Contoh :  radio dan televisi.

2)      Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat

Media ini membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound slides, film rangkai, yang harus menggunakan tempat yang tertutup dan gelap.

3)      Media untuk Pengajaran Individual

Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri. Yang termasuk media ini adalah modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.

  1. Dilihat dari Bahan Pembuatannya, Media Dibagi Dalam :

1)      Media Sederhana

Media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.

2)      Media Kompleks

Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang memadai.

Dari jenis-jenis dan karakteristk media sebagaimana disebutkan diatas kiranya patut menjadi perhatian dan pertimbangan bagi guru ketika akan memilih atau mempergunakan media dalam pengajaran. Karakteristik media yang mana yang dianggap tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran, itulah media yang seharusnya terpakai.

  1. Prinsip-prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media

Setiap media pengajaran memiliki keampuhan masing-masing. Maka diharapkan kepada guru agar menentukan pilihannya sesuai dengan kebutuhan pada saat suatu pertemuan. Hal ini dimaksudkan jangan sampai penggunaan media menjadi penghalang proses belajar mengajar yang akan guru lakukan dikelas.

Ketika suatu media akan dipilih, ketika suatu media akan dipergunakan, ketika itulah beberapa prinsip perlu guru perhatikan dan dipertimbangkan. Drs. Sudirman N. (1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibaginya ke dalam tiga kategori, sebagai berikut :

  1. Tujuan Pemilihan

Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah pemilihan media itu untuk pembelajaran siswa belajar, untuk informasi yang bersifat umum, ataukah untuk sekedar hiburan saja mengisi waktu kosong. Lebi spesifik lagi, apakah untuk pengajaran kelompok atau pengajaran individual, apakah untuk sasaran tertentu seperti anak TK, SD, SMP, SMU, tuna rungu, tuna netra, masyarakat pedesaan, ataukah masyarakat perkotaan. Tujuan pemilihan ini berkaitan dengan kemampuan berbagai media.

  1. Karakteristik Media Pengajaran

Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya. Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan media pengajaran.

  1. Alternatif Pilihan

Memilih pada hakikatnya adalah proses membuat keputusan dari berbagai alternatif pilihan. Guru bisa menentukan pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat beberapa media yang dapat diperbandingkan. Sedangkan apabila media pengajaran itu hanya ada satu, maka guru tidak bisa memilih tetapi menggunakan apa adanya.

Dalam menggunakan media hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan media tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip itu menurut Dr. Nana Sudjana (1991:104) adalah :

1)      Menentukan jenis media dengan tepat. Artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan.

2)      Menerapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat. Artinya perlu diperhitungkan apakah penggunaann media itu sesuai dengan tingkat kematangan / kemampuan anak didik.

3)      Menyajikan media dengan tepat. Artinya teknik atau metode penggunaan media dalam pengajaran haruslah disesuaikan dengan tujuan, bahan metode, waktu, dan sarana yang ada.

4)      Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat. Artinya kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar media digunakan. Tentu tidak setiap saat atau selama proses belajar mengajar terus menerus memperlihatkan atau menjelaskan sesuatu dengan media pengajaran.

Keempat prinsip ini hendaknya diperhatikan oleh guru pada waktu ia menggunakan media pengajaran.

  1. Dasar Pertimbangan Pemilihan dan Penggunaan Media

Agar media pengajaran yang dipilih itu tepat, di samping memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, juga terdapat beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan.

  1. Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Memilih Media Pengajaran

1)      Objektivitas

Unsur subjektivitas guru dalam memilih media pengajaran harus dihindarkan. Artinya guru tidak boleh memilih suatu media pengajaran atas dasar kesenangan pribadi.

Apabila secara objektif, berdasarkan hasil penelitian atau percobaan, suatu media pengajaran menunjukkan keefektifan dan keefisiensi yang tinggi, amak guru jangan merasa bosan menggunakannya. Untuk menghindari pengaruh unsur subjektivitas guru, alangkah baiknya apabila dalam memilih media pengajaran itu guru meminta pandangan atau saran dari teman sejawat dan atau melibatkan siswa.

2)      Program Pengajaran

Program pengajaran yang akan disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, baik isinya, strukturnya, maupun kedalamannya. Meskipun secara teknis program itu sangat baik, jika tidak sesuai dengan kurikulum ia tidak akan banyak membawa manfaat bahkan mungkin hanya menambah beban, baik waktu, tenaga, dan biaya. Terkecuali jka program itu hanya dimaksudkan untuk mengisi waktu senggang saja daripada anak didik bermain-main tidak karuan.

3)      Sasaran Program

Sasaran program yang dimaksud adalah anak didik yang akan menerima informasi pengajaran melalui media pengajaran. Pada tingkat usia tertentu dan dalam kondisi tertentu anak didik mempunyai keampuan tertentu pula, baik cara berfikirnya, daya imajinasinya, kebutuhannya, maupun daya tahan dalam belajarnya.

4)      Situasi dan kondisi

Situasi dan kondisi yang ada perlu mendapat perhatian dalam menentukan pilihan media pengajaran yang akan digunakan. Situasi dan kondisi yang dimaksud meliputi :

a)      Situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yang akan digunakan seperti ukurannya, perlengkapannya, dan ventilasinya.

b)      Situasi serta kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran mengenai jumlahnya, motivasinya, dan kegairahannya. Anak didik yang sudah melakukan praktik yang berat seperti praktik olahraga, biasanya kegairahan belajarnya sangat menurun.

5)      Kualitas Teknik

Dari segi teknik, media pengajaran yang akan digunakan perlu diperhatikan, apakah sudah memenuhi syarat. Barangkali ada rekaman audionya atau gambar-gambar atau alat-alat bantunya yang kurang jelas atau kurang lengkap sehingga perlu penyempurnaan sebelum digunakan. Suara atau gambar yang kurang jelas bukan saja kurang menarik, tetapi juga dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

6)      Keefektifan dan Efisiensi Penggunaan

Keefektifan berkenaan dengan hasil yang dicapai, sedangkan efisiensi berkenaan dengan proses pencapaian hasil tersebut. Keefektifan dalam penggunaan media meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut informasi pengajaran dapat diserap oleh anak didik dengan optimal, sehingga menimbulkan perubahan tingkah lakunya. Sedangkan efisiensi meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut, waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut sedikit mungkin.

  1. Kriteria Pemilihan Media Pengajaran

Apabila akan menggunakan media pengajaran dengan cara memanfaatkan media yang telah ada, guru dapat menjadikan kriteria berikut sebagai dasar acuan :

1)      Apakah topik yang akan dibahas dalam media tersebut dapat menarik minat anak didik untuk belajar?

2)      Apakah materi yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak didik?

3)      Apabila media itu sebagai sumber pembelajaran yang pokok, apakah isinya relevan dengan kurikulum yang berlaku ?

4)      Apakah materi yang disajikan otentik dan aktual, ataukah informasi yang sudah lama diketahui masa dan atau peristiwa yang telah lama terjadi?

5)      Apakah fakta dan konsepnya terjamin kecermatannya atau ada suatu hal yang masih diragukan ?

Untuk jenis media rancangan (yang dibuat sendiri), pertanyaan yang dijadikan sebagai acuan diantaranya sebagai berikut :

1)      Apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau hanya informasi tambahan atau hiburan?

2)      Apakah media yang dirancang itu untuk keperluan pembelajaran atau alat bantu pengajaran (peraga)?

3)      Apakah dalam pengajarannya akan menggunakan strategi kognitif, afektif, atau psikomotor?

4)      Apakah materi pelajaran yang akan disampaikan itu masih sangat asing bagi anak didik?

5)      Apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran bahasa?

Setelah pertanyaan tersebut diatas terjawab, maka guru dapat mengajukan alternatif media yang akan dirancang. Alternatif tersebut mungkin jenis media audio, media visual, atau media audiovisual. Selain kriteria pemilihan media pengajaran sebagaimana disebutkan diatas, Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (1991:5) juga mengemukakan rumusannya. Menurut mereka, dalam memiih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut :

1)      Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.

2)      Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.

3)      Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya mudah dibuat oleh guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya.

4)      Keterampilan guru dalam menggunakan, artinya apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran.

5)      Tersedianya waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.

6)      Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa, sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami oleh siswa.

Dengan kriteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar.

  1. Pengembangan dan Pemanfaatan Media Sumber

Media pengajaran adalah suatu alat bantu yang tidak bersenyawa. Alat ini bersifat netral. Peranannya akan terlihat jika guru pandai memanfaatkannya dalam belajar mengajar. Media apa yang akan dimanfaatkan oleh guru ? Kapan pemanfaatannya? Dimana dimanfaatkannya? Bagaimna cara pemanfaatannya? Adalah serentetan pertanyaan yang perlu diajukan dalam rangka  pengembangan dan pemanfaatan media pengajaran dalam proses belajar mengajar.

Sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar, media memiliki beberapa fungsi. Nana Sudjana (1991) merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori sebagai berikut :

  1. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
  2. Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh guru.
  3. Media pengajaran dalam pengajaran, penggunaan integral dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan) media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
  4. Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
  5. Penggunaan media dalam media pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
  6. Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.

Ketika fungsi-fungsi media pembelajaran itu diaplikasikan ke dalam proses belajar mengajar, maka terlihatlah peranannya sebagai berikut :

  1. Media yang digunakan guru sebagai penjelasan dari keterangan terhadap suatu bahan yang guru sampaikan.
  2. Media dapat memunculkan permasalahan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya.
  3. Media sebagai sumber belajar bagi siswa. Media sebagai bahan konkret berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa, baik individual maupun kelompok.

Bertolak dari fungsi dan peranan media diharapkan pemahaman guru terhadap media menjadi jelas, sehingga tidak memanfaatkan media secara sembarangan. Prinsip-prinsip dan faktor-faktor sebagaimana disebutkan diatas, kiranya jangan diabaikan. Semua itu sangat penting dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan dalam proses belajar mengajar.

  1. Memancing Apersepsi Anak

Perkembangan dan pertumbuhan anak didik mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya. Perkembangan dan pertumbuhan anak itu sendiri dipengaruhi lingkungan di mana anak hidup berdampingan dengan orang lain disekitarnya dan dengan alam lingkungan hidup lainnya. Oleh sebab itu, anak sebagai makhluk individual suatu waktu harus hidup berdampingan dengan semua orang dalam lingkup kehidupan sosial di masyarakat.

Kehidupan sosial di masyarakat tidak selalu sama, tapi ada juga perbedaannya. Perbedaan itu dapat dilihat dari aspek tingkat usia, pekerjaan, jabatan, tingkat kekayaan, pendidikan, sosiologis, geografis, profesi, dan sebagainya. Sikap, perilaku, dan pandangan hidup anak dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuknya. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih cepat menyebar di masyarakat perkotaan daripada pedesaan. Perbandingan tersebut adalah dua sisi kehidupan yang dapat melahirkan karakteristik anak yang berbeda pula. Hal ini pula yang menyebabkan perbedaan latar belakang kehidupan sosial anak.

Dalam mengajar guru dapat memanfaatkan hal – hal yang menjadi kesenangan anak untuk diselipkan dalam melengkapi isi dari bahan pelajaran yang disampaikan. Pendekatan realisasi ini dirasakan keampuhannya untuk memudahkan pengertian dan pemahaman anak didik terhadap bahan pelajaran yang disajikan. Pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang diberikan merupakan bahan apersepsi yang dipunyai oleh anak. Pertama kali anak menerima bahan pelajaran dari guru dalam suatu pertemuan, merupakan pengalaman pertama anak untuk menerima sesuatu yang baru; dan hal itu tetap menjadi milik anak. Pada pertemuan berikutnya, pengetahuan anak tersebut dapat dimanfaatkan untuk memancing perhatian anak terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan, sehingga anak terpancing untuk memperhatikan penjelasan guru. Usaha guru menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki anak didik dengan pengetahuan yang masih relevan yang akan diberikan, merupakan teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam pengajaran.

Bahan apersepsi sangat membantu anak didik dalam usaha mengolah kesan – kesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Penjelasan demi penjelasan dapat anak didik cerna secara bertahap hingga jalan pelajaran berakhir. Dengan begitu, guru jangan khawatir bahwa anak didik tidak menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Tapi yakinlah bahwa anak didik dapat menguasai sebagian atau seluruh bahan pelajaran yang diberikan dalam suatu pertemuan.

  1. Bentuk Motivasi dan Penggunaan Metode yang Bervariasi
    1. Bentuk Motivasi

Bentuk motivasi merupakan salah satu dari sederetan faktor proses belajar mengajar. Motivasi memang merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seorang anak didik. Ketika seorang guru melihat perilaku anak didik tidak terfokus akan pelajaran, maka perlu diambil langkah – langkah yang dapat menimbulkan motivasi untuk belajar bagi anak didik tersebut. Dalam usaha untuk membangkitkan gairah belajar anak didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu:

  1. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar.
  2. Menjelaskan secara konkret kepada anak didik apa yang dapat

dilakukan pada akhir pengajaran.

  1. Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian hari.
  2. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
  3. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.
  4. Menggunakan metode yang bervariasi (Syaiful Bahri Djamarah, 1994: 38).

Bentuk- bentuk motivasi dimaksud adalah:

  1. Memberikan Angka

Angka dimaksud sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkannya prestasi belajar mereka. Apabila angka yang diperoleh anak didik lebih tinggi dari anak didik lainnya, maka anak didik cenderung untuk mempertahankannya. Berbagai pertimbangan tentu lebih dahulu diperhatikan, betulkah hasil yang dicapai anak didik itu atas usahanya sendiri. Di sini kearifan guru dituntut agar memberikan penilaian tidak sembarangan, sehingga tidak merugikan anak didik yang betul – betul belajar.

  1. Hadiah

Hadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang – kenangan/cenderamata. Pemberian hadiah bisa dilakukan kepada semua anak didik, maupun kepada anak didik perseorangan. Pemberian hadiah dapat digunakan untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik di dalam kegiatan belajar mengajar. Terlalu sering memberikan hadiah tidak dibenarkan, sebab hal itu akan memberi kebiasaan yang kurang menguntungkan kegiatan belajar mengajar. Dikhawatirkan anak didik giat belajar hasil kerjanya mendapatkan imbalan guru.

  1. Pujian

Pujian adalah alat motivasi yang positif. Setiap orang senang dipuji. Tak peduli tua atau muda, bahkan anak – anak pun senang dipuji atas sesuatu pekerjaan yang telah selesai dikerjakannya dengan baik. Pujian dapat berfungsi untuk mengarahkan kegiatan anak didik pada hal – hal yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran.

Pujian tidak hanya dapat diberikan kepada seorang anak didik, tetapi dapat juga diberikan kepada semua anak didik. Tetapi pujian tidak diberikan kepada anak didik sebelum mereka menyelesaikan pekerjaannya. Pujian ini dapat digunakan untuk mendapatkan umpan balik dari setiap anak didik dalam proses belajar mengajar.

  1. Gerakan Tubuh

Gerakan tubuh merupakan penguatan yang dapat membangkitkan gairah belajar anak didik, sehingga proses belajar mengajar lebih menyenangkan. Hal ini terjadi karena interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik seiring untuk mencapai tujuan pengajaran. Anak didik memberikan tanggapan atas stimulus yang guru berikan. Gerakan tubuh dapat meluruskan perilaku anak didik yang menyimpang dari tujuan pembelajaran. Gerakan tubuh yang bagaimana pun bentuknya dapat melahirkan umpan balik dari anak didik, jika dilakukan dengan tepat.

  1. Memberikan Tugas

Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan. Guru dapat memberikan tugas kepada anak didik sebagai bagian yang tak dapat terpisahkan dari tugas belajar anak didik. Tugas dapat diberikan oleh guru setelah selesai menyampaikan bahan pelajaran. Tugas yang diberikan dapat berupa membuat rangkuman dari bahan pelajaran yang baru dijelaskan, membuat kesimpulan, menjawab masalah tertentu yang telah dipersiapkan, dan sebagainya.

Dalam rangka menyelesaikan tugas diperlukan rentangan waktu. Jumlah masalah yang diajukan dan waktu yang disediakan untuk suatu tugas harus seimbang, sesuai dengan tingkat berat ringannya sifat tugas yang diberikan, sehingga anak didik tidak merasa dikejar – kejar waktu.

  1. Memberikan Ulangan

Ulangan adalah salah satu strategi yang penting dalam pengajaran. Dengan ulangan, guru dapat mengetahui sampai di mana dan sejauh mana hasil pengajaran yang telah dilakukannya (evaluasi proses) dan sampai sejauh mana tingkat penguasaan anak didik terhadap bahan yang telah diberikan dalam rentangan waktu tertentu (evaluasi produk). Selain kedua kepentingan itu, kepentingan lainnya lagi adalah untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik. Sesungguhpun begitu, ulangan yang diberikan itu tidak terkesan asal – asalan, hanya untuk menyembunyikan kelemahan diri, tetapi harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

  1. Mengetahui Hasil

Ingin mengetahui hasil adalah suatu sifat yang sudah melekat di dalam diri setiap orang. Dorongan ingin mengetahui membuat seseorang berusaha dengan cara apapun agar keinginannya itu menjadi kenyataan atau terwujud. Karena anak didik adalah manusia. Maka di dalam dirinya ada keinginan untuk mengetahui sesuatu.guru tidak harus mematikan keinginan anak untuk mengetahui, tetapi memanfaatkan untuk  kepentingan pengajaran. Dengan mengetahui hasil dari apa yang telah dilakukan oleh anak didik, apalagi hasilnya dengan prestasi tinggi, dapat mendorong anak didik untuk mempertahankannya, dan bahkan anak didik berusaha untuk meningkatkannya di kemudian hari dengan cara giat belajar di rumah atau di sekolah. Tetapi dengan mengetahui hasil bisa juga berdampak negatif bagi si anak. Jika si anak menghasilkan nilai yang rendah dan akan kecewa, kekecewaan itu dapat dilampiaskan dengan merobek kertas hasil ujiannya. Maka dengan hal ini, kearifan gurulah yang dituntut, bagaimana menanamkan pengertian serta sikap positif kepada siswa.

  1. Hukuman

Hukuman adalah reinforcement yang negatif, tetapi diperlukan dalam pendidikan. Hukuman yang dimaksud disini tidak seperti hukuman penjara atau hukuman potong tangan. Tetapi adalah hukuman yang bersifat mendidik.

  1. Penggunaan Metode yang Bervariasi

Metode adalah strategi yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Setiap kali mengajar guru pasti menggunakan metode. Metode yang dipergunakan itu tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Strategi metode mengajar yang saling melengkapi ini akan menghasilkan hasil pengajaran yang lebih baik daripada penggunaan satu metode. Penggunaan metode akan menghasilkan kemampuan yang sesuai dengan karakteristik metode tersebut. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat menggairahkan belajar anak didik. Penggunaan metode yang bervariasi sebagaimana disebutkan di atas dapat menjembatani gaya – gaya belajar anak didik dalam menyerap bahan pelajaran. Umpan balik dari anak didik akan bangkit sejalan dengan penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan kondisi psikologis anak didik. Maka adalah penting memahami kondisi psikologis anak didik sebelum menggunakan metode mengajar guna mendapatkan umpan balik optimal dari setiap anak didik.

Tinggalkan komentar »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
1 Komentar »